Menjelang hari raya Idul Adha, salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Arafah. Bagi umat Muslim, memahami hukum puasa Arafah penting, agar ibadah yang dijalankan niatnya benar dan bernilai di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepat saat jutaan jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah.
Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering ditanyakan: bagaimana jika Anda masih punya utang puasa Ramadan yang belum diqadha, sementara puasa Arafah sudah di depan mata? Bolehkah keduanya digabung dalam satu niat sekaligus? Supaya Anda tidak salah langkah dalam beribadah, simak penjelasan lengkapnya sampai akhir.
Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Hukum puasa Arafah adalah sunnah dan ini hanya diperuntukkan bagi umat Muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Sedangkan jamaah yang sedang berhaji, justru tidak dianjurkan berpuasa pada hari tersebut agar kuat menjalani rangkaian ibadah wukuf.
Puasa Arafah dilaksanakan tepat pada 9 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, sehari sebelum Idul Adha. Ibnu Muflih dalam kitab Al Furu' (3: 108) menegaskan bahwa puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan, dan yang paling utama di antaranya adalah puasa pada hari kesembilan, yaitu hari Arafah. Hal ini bahkan disepakati oleh para ulama.Keutamaan Puasa Arafah
Keutamaan puasa Arafah sangat luar biasa. Dari Abu Qotadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim no. 1162). Mengenai dosa apa saja yang diampuni, para ulama memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Imam Nawawi rahimahullah menambahkan, jika bukan dosa kecil yang diampuni, semoga dosa besar yang diperingan. Sementara Ibnu Taimiyah rahimahullah memandang bahwa hadits tersebut bersifat umum, sehingga dosa besar pun berpotensi untuk diampuni. Dengan keutamaan sebesar ini, sangat sayang rasanya jika puasa Arafah sampai terlewatkan. Dengan keutamaan sebesar itu, wajar jika banyak Muslim berlomba-lomba menunaikan puasa ini. Namun, bagi yang masih punya tanggungan qadha Ramadan, pertanyaan soal penggabungan niat seringkali menjadi dilema tersendiri.
Hukum Puasa Arafah Digabung dengan Puasa Qadha Ramadan
Pertanyaan ini memang cukup populer di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki hutang puasa Ramadan karena sakit, haid, atau alasan lain yang dibenarkan syariat. Apakah sah jika dalam satu hari yang sama, seseorang berniat puasa Arafah sekaligus puasa qadha Ramadan? Apa hukum puasa arafah jika digabung dengan puasa qadha? Dalam pembahasan mengenai hukum puasa Arafah, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait pelaksanaannya bagi orang yang masih memiliki utang puasa Ramadan. Mazhab Hanafiyah membolehkan seseorang melaksanakan puasa sunnah seperti puasa Arafah meskipun masih memiliki utang puasa Ramadan. Alasannya, qadha puasa tidak harus ditunaikan secara langsung atau segera. Sementara itu, ulama Malikiyah dan Syafi’iyah juga membolehkan puasa Arafah sebelum qadha Ramadan, namun dengan hukum makruh. Hal ini karena dianggap mendahulukan amalan sunnah dibandingkan kewajiban, sehingga lebih utama bagi seorang Muslim untuk menyelesaikan utang puasanya terlebih dahulu. Adapun mazhab Hanabilah memiliki pandangan yang lebih tegas terkait hukum puasa Arafah. Mereka berpendapat bahwa puasa sunnah, termasuk puasa Arafah, tidak sah dilakukan apabila seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan yang belum ditunaikan. Perbedaan pendapat ini tentu membuat kita perlu lebih teliti. Lalu, manakah pendapat yang paling kuat? Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika membahas hukum puasa Arafah. Wajar saja, karena banyak orang ingin tetap mendapatkan keutamaan puasa Arafah, meskipun masih memiliki hutang puasa Ramadan. Dalil yang melarang mendahulukan puasa sunnah dari puasa wajib ternyata berstatus hadits dha'if. Selain itu, dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185, Allah memutlakkan qadha puasa tanpa memerintahkan untuk dilakukan sesegera mungkin. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin rahimahullah juga menyimpulkan bahwa puasa sunnah sebelum qadha adalah sah dan tidak berdosa, karena waktunya yang masih longgar hingga Ramadan berikutnya. Imam Nawawi rahimahullah pun menegaskan hal serupa: disunnahkan menyegerakan qadha puasa Ramadan, namun jika ditunda tetaplah sah, yang terpenting adalah ada tekad untuk melunasinya. Kesimpulannya, masih boleh berpuasa Arafah meskipun memiliki utang puasa, asalkan yang bersangkutan bertekad untuk melunasinya. Jadi, Anda tidak perlu khawatir. Tetap tunaikan puasa Arafah. Jangan biarkan hari istimewa 9 Dzulhijjah berlalu begitu saja. Lunasi tanggungan qadha puasa atau fidyah Anda sesegera mungkin setelah hari Arafah usai. Merencanakan perjalanan umroh bukan hanya soal semangat ibadah, tapi juga soal manajemen yang baik. Bayangkan jamaah Anda bisa merasakan langsung buka puasa di Mekkah dengan tenang, karena semua urusan administrasi perjalanan sudah tertangani rapi. Nah, MuslimPergi hadir sebagai aplikasi jamaah umroh yang bisa mewujudkan impian itu. Satu platform bisa mengelola data jamaah, jadwal keberangkatan, hingga administrasi perjalanan. Efisien dan praktis. Anda bisa memberikan pelayanan terbaik ke jamaah, sementara operasional biar MuslimPergi yang mengerjakan. Jadi, tunggu apalagi? Kunjungi MuslimPergi sekarang dan temukan bagaimana teknologi kami bisa membantu bisnis travel umroh Anda tumbuh profesional!Lalu, Bolehkah Puasa Arafah Digabung dengan Qadha Ramadan?
Beri Pelayanan Terbaik ke Jamaah Bersama MuslimPergi