Pahami Syarat Ibadah Haji Sebelum Pergi Ke Tanah Suci

Kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menyambut bulan haji dengan suka cita setelah sempat terhenti dan dibatasi selama dua tahun lamanya akibat virus corona. Meskipun peraturan prokes (protokol kesehatan) tetap wajib dipatuhi, kini kuota keberangkatan haji semakin meningkat paska corona. Namun, perasaan suka cita tersebut juga harus dibarengi dengan pemahaman terkait syarat ibadah haji yang wajib dipenuhi.

Suasana haji. Sumber: unsplash.com
Suasana haji. Sumber: unsplash.com

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang didambakan oleh setiap umat Islam di muka bumi ini. Perbedaan dari ibadah haji dengan ibadah lainnya adalah ibadah haji memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Bukan hanya pengorbanan harta, tetapi juga tenaga fisik dan mental. Maka dari itu, apabila ibadah haji seseorang mabrur, maka balasannya adalah surga.

Asal Mula Syariat Ibadah Haji

Definisi haji jika dilihat dari kaca mata syariat adalah suatu aktivitas ibadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Syariat haji sebenarnya telah dimulai dari masa Nabi Ibrahim Alaihissallam bersama putranya yaitu Nabi Ismail Alaihissalam.

Syariat haji diturunkan sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam. Sumber: google.com
Syariat haji diturunkan sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam. Sumber: google.com

Namun seiring berjalannya waktu, syariat haji yang awalnya bertujuan untuk menghamba hanya kepada Allah, malah menjadi kesempatan bagi orang-orang jahiliyah untuk menodainya dengan ibadah-ibadah yang keluar dari syariat yang telah Allah tentukan. Mulai dari mengadakan peribadatan kepada berhala, hingga meletakkannya di dalam Ka’bah.

Karena itulah Allah mengutus Nabi terakhir yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk membersihkan noda-noda kesyirikan yang menjamur di kalangan masyarakat Mekkah dan sekitarnya. Sebagaimana telah Allah ingatkan kepada setiap kaum muslimin dalam firmannya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Syarat Ibadah Haji dan Umroh

Syarat Ibadah Haji. Sumber: unsplash.com
Syarat Ibadah Haji. Sumber: unsplash.com

Setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya pasti memiliki ketentuan tertentu yang harus dipatuhi dan dipenuhi oleh kaum muslimin. Dengan adanya syarat suatu ibadah, maka menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut. Tidak terkecuali pada ibadah haji dan juga umroh. Berikut adalah syarat wajib haji dan umroh yang harus Anda ketahui:

1. Beragama Islam

Hanya seseorang yang telah bersyahadat dan mengakui agama Islam lah yang bisa menunaikan haji dan umroh. Maka orang dengan keyakinan selain agama Islam tidak diperkenankan untuk menunaikannya.

2. Berakal Sehat

Orang dengan kondisi akal yang tidak sehat seperti orang gila tentunya sudah lepas dari kewajiban untuk berhaji dan berumroh. Maka dari itu, hanya kaum muslimin yang berakal sehatlah yang diwajibkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah tersebut

3. Orang yang Telah Baligh

Tanda yang menentukan seseorang telah baligh ada tiga yaitu anak laki-laki maupun perempuan yang telah berumur 15 tahun, terjadi ihtilam (mimpi basah) pada anak laki-laki, yang ketiga anak perempuan yang telah mengalami haid. Apabila seseorang telah melewati tahap baligh, maka ia masuk kategori yang diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh.

4. Orang yang Merdeka

Definisi merdeka disini maksudnya adalah orang yang bebas menjadi hamba sahaya atau orang yang bukan seorang budak yang harus terikat terhadap tanggung jawab kepada tuannya.

5. Orang yang Mampu

Syarat mampu bagi laki-laki maupun perempuan dapat dilihat dari sisi bekal dan kendaraan, sehat badan, penuh rasa aman dan mampu melakukan perjalanan. Mampu juga diartikan memiliki kecukupan dalam menafkahi keluarga, memiliki tempat tinggal dan pakaian, serta bebas dari lilitan hutang. Ada syarat khusus bagi kaum muslimah yaitu harus ditemani oleh mahramnya dan tidak berada dalam masa ‘iddah.

Adapun sunah haji yang perlu diketahui sebelum Anda melaksanakannya antara lain dianjurkan untuk memperbanyak talbiyah, mendahulukan ibadah haji dari umroh, melakukan thawaf qudum, melakukan shalat sunnah dua rakaat setelah selesai berthawaf, dan mengenakan kain atas (rida’) dan kain bawah (izar) yang berwarna putih.

Keutamaan Ibadah Haji

Limpahan keberkahan bagi muslim yang melaksanakan haji. Sumber: unsplash.com
Limpahan keberkahan bagi muslim yang melaksanakan haji. Sumber: unsplash.com

Setiap amalan dan ibadah tentunya memiliki keutamaan yang nilainya tidak bisa dihitung dengan hitungan manusia. Ini menunjukkan bahwa tujuan diturunkannya ibadah dan syariat sesungguhnya agar umat manusia bisa mendapat keuntungan dan keutamaan di dunia dan juga di akhirat. Adapun keutamaan-keutamaan bagi orang yang melaksanakan ibadah haji antara lain sebagai berikut:

1. Balasan Surga Bagi Orang yang Telah Melaksanakan Haji

Imbalan terbesar yang bisa diharapkan oleh setiap hamba pastinya adalah masuk surga. Dengan melaksanakan ibadah haji dengan mengikuti syariat-syariat yang ada dan menjaga diri dari perbuatan maksiat dan syirik, maka balasan yang telah Allah siapkan adalah surga. Sebagaimana yang telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sampaikan:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

2. Penghapus Kesalahan dan Dosa

Suatu ketika Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521)

Ampunan Allah adalah rahmat yang tak ternilai harganya. Untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, maka setiap muslim yang berkesempatan melaksanakan ibadah haji patut menjaga dirinya dari pebuatan fasik dan menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang kotor.

3. Ibadah Haji termasuk Jihad Di Jalan Allah

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia pernah bertanya pada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Dengan memahami berbagai syarat dan hukum ibadah haji, diharapkan umat muslim yang mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tanah suci bisa melaksanakannya sesempurna mungkin supaya bisa mendapatkan haji yang mabrur.